CERPEN: Lukisan di Gudang Itu

          Zian adalah seorang murid kelas XI SMA. Ia baru pulang dari sekolah sekitar pukul 19.00 karena ada latihan basket di sekolahnya. Ia membuka pagar rumahnya dan membuka sepatu dan kaos kaki yang di kenakannya. Tak lama kemudian, ia membuka pintu rumahnya sambil mengucapkan salam.
          “Assalamualaikum”, teriak Zian dari pintu rumahnya.
          “Waalaikum salam” , balas seorang wanita dari dalam rumahnya yang tidak lain adalah ibunda Zian.
          “Kok baru pulang nak?” Tanya ibunda Zian.
          “Ah ibu seperti tidak tahu saja, setiap hari selasa kan aku ada latihan basket”, jawab Zian yang nada bicaranya seperti membentak.
          “Loh kok ibu tanya baik-baik kamu jawabnya sambil membentak begitu?”
          “Sudahlah bu, aku sudah capek, aku mau mandi dulu ah”, sambung Zian yang kemudian masuk ke dalam rumah.
          Zian adalah anak tunggal dari pasangan Supraptono dan Maryanti. Mereka tinggal hanya bertiga di rumah yang berlokasi di daerah Mampang itu.
          Zian pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mandi dan makan malam, ia ke kamarnya untuk mengerjakan pr yg diberikan oleh gurunya. Ia ingat bahwa ia lupa buku rumus fisikanya ia simpan di gudang. Lantas, ia segera menuju gudang untuk mencari buku tersebut.
          Saat ia ada di gudang, ia mencari-cari buku itu. Tak sengaja ia melihat lukisan yang terselip diantara kardus dengan tembok. Lukisan itu menggambarkan seorang wanita cantik yang twas mengenaskan dengan posisi tubuh yang miring ke kanan, muka penuh darah, tangan kanan yang memegang rambut, tangan kiri diatas perut dan posisi kaki yang bersilangan.
          “Lukisan apa ini?” Tanya Zian sambil memegang lukisan tersebut dengan penuh rasa penasaran.
          Zian membawa lukisan itu ke kamarnya untuk ia teliti lebih lanjut. Ia melihat ada tanggal pembuatan lukisan tersebut di pojok kanan bawah lukisan itu.
          “06-10-’38 ? Lukisan siapa ini? Apa maksud lukisan ini?” Tanya Zian yang kemudian ia melihat tulisan yang tertera pada sisi belakang lukisan itu.
          “Tulisan apa ini? raak me niet aan of een nachtmerrie zal rondspoken u?” Tanya Zian sambil menggaruk-garuk kepalanya.
          “Sudahlah, mungkin ini bukan apa-apa”
          Zian meletakkan lukisan itu di tempat semula. Lalu Zian mengerjakan pr yang diberikan gurunya. Setelah selesai mengerjakan pr, ia beranjak ke tempat tidurnya dan tidur dengan nyenyak.
          Alarm berbunyi, ternyata pagi sudah datang. Zian segera bersiap untuk berangkat sekolah. Setelah ia mandi dan sarapan, ia pamit kepada kedua orang tuanya dan segera beranjak keluar rumah.
          “Zian bernagkat ya bu, pak. Assalamualaikum”, Ujar Zian sambil mencium tangan kedua orangtuanya.
          “Wa’alaikum salam”, sahut kedua orangtuanya.
          Sesampainya di sekolah, ia menaruh tasnya diatas meja belajarnya. Saat ia sedang duduk di kursinya, seorang murid perempuan datang menghampirinya, dia bernama Liana.
          “Zian kamu jahat!” Teriak Liana
          “Ada apa dengan ku?”
          “Kamu sudah tega menghamili aku. Kamu lihat, aku sedang mengandung anak kamu”
          “Hah? Kenapa aku? Kita tidak pernah melakukan hubungan terlarang itu, jangankan menghamilimu, menciummu saja aku tak berani”, Kata Zian.
          “Tapi ini apa? Jahat kamu!” Teriak Liana dan Liana lari menuju kamar mandi.
          Murid-murid yang lain melihat ke arah Liana seketika, wajah mereka terlihat heran mengapa hal itu bisa terjadi. Zian memang dekat dengan Liana. Zian juga sebenarnya menyukai Liana, namun ia tidak berani menyatakannya. Oleh sebab itu, Zian sering gugup bila ia bertemu dengan Liana. Mereka sering ngobrol bersama, ke kantin bersama dan pulang sekolah bersama.
          Bel masuk sekolah sudah berbunyi, para murid masuk ke kelas mereka masing-masing. Namun sampai sekarang pun Liana belum juga keluar dari kamar mandi. Guru pengajar juga sudah masuk ke kelas.Murid-murid yang sekelas dengan Liana bingung mengapa Liana lama sekali di kamar mandi, tak terkecuali Zian.
          ‘Bruuugghhhh!!’ Terdengar suara dari kamar mandi perempuan. Awalanya tidak ada yang menghiraukan suara tersebut, namun penjaga sekolah dan petugas kebersihan segera berlari ke kamar mandi dan memancing perhatian para murid kelas zian yang bersebrangan dengan kamar mandi perempuan.
          “Ada siswi yang meninggal!” Teriak salah satu penjaga sekolah.
          Semua murid berbondong-bondong ke kamar mandi perempuan dan ternyata yang meninggal adalah Liana.
          “Astaghfirullah Liana!” Teriak bu Lisa yang sedang mengajar di kelas Zian.
          Zian pun kaget, Ia hanya melamun stelah bu Lisa teriak seperti itu.
          “Hah? Liana?” Ujar Zian kaget melihat jenazah Liana yang tergeletak di kamar mandi perempuan.
          Yang lebih mengejutkan lagi ialah pose jenazah Liana sama persis dengan pose yang ada di lukisan yang Zian temui di gudangnya.Akhirnya semua murid masuk ke kelas termasuk zian yang terdiam 1000 bahasa setelah kepergian sahabatnya yang begitu cepat.
          Sepulang sekolah, Zian menonton TV yang meliput tentang kecelakaan yang terjadi di sekolahnya. Ia hanya terdiam dan menangis setelah kehilangan perempuan yang ia dambakan selama ini.
          Zian kembali ke gudang untuk mengambil lukisan itu. Ia perhatikan dengan detail lukisan itu, mengapa posisi jenazah Liana bisa sama dengan pose lukisan itu.Namun, tidak ada yang menunjukkan tanda-tanda kematian Liana dalam lukisan tersebut.
          Esok harinya, kegiatan KBM berlangsung seperti biasa walaupun di selimuti duka atas kehilangan Liana.
          “Assalamualaikum”, Sahut seorang guru matematika memasuki ruang kelas Zian.
          “Waalaikum salam”, Jawab seisi kelas dengan kompak.
          Bu Fitri adalah wali kelas yang juga merupakan guru pengajar matematika di kelas Zian. Bu Fitri juga adalah guru kesenangan Zian karena Bu Fitri adalah guru yang paling perhatian terhadap anak-anak murid. Bagi Zian, Bu Fitri adalah ibunya di sekolah.
          2 Jam pelajaran berlangsung kondusif. Setelah bel berbunyi Bu Fitri keluar kelas dan berjalan menuju tangga. ‘Gubraaakkk!’ Terdengar suara dari tangga, ternyata Bu Fitri jatuh di tangga dan tewas seketika.
          “Ada apa ini?” Teriak Pak setyo yang hendak mengajar ke kelas Zian.
          Anak-anak kelas Zian pun berbondong-bondong keluar kelas untuk melihat apa yang terjadi.
          “Ya ampun bu Fitri!” Teriak anak-anak.
          “Bu Fitrii…!!” Zian berteriak dan menghampiri jenazah bu Fitri yang masih tergeletak di tangga.
          Dan lagi-lagi kematian ini penuh misteri, karena posisi jenazah Bu Fitri sama persis seperti pose wanita di lukisan itu. Guru-guru yang lain pun segera mengangkat mayat bu Fitri dan anak-anak kembali masuk kelas.
          Sepulang sekolah, Zian melihat lagi lukisan itu dengan seksama dan penuh ketelitian. Tak terasa Adzan Maghrib berkumandang, Zian bersiap menunaikan shalat Maghrib. Ia mengambil air wudhu dan menggelar sajadah. Saat ia ingin memakai sarung, terdengar suara ledakan serta teriakan dari dapur rumahnya.
          “Ziaaann! Ibumu naak!” Teriak Ayah Zian.
          “Kenapa Yah?” Teriak Zian menghampiri ayahnya di dapur.
          “Tadi tabung gas meledak dan ibumu terlempar hingga jatuh, sekarang ia sudah tak bernafas”
          “Ya ampun ibu…!” Ujar Zian sambil tersak-isak.
          Dan lagi-lagi posisi jatuh ibunya Zian sama persis pose wanita yang ada di lukisan itu. Zian dan Ayahnya membawa ibunya ke rumah sakit, namun semua terlambat, nyawa ibu Zian tidak terselamatkan.
          Jenazah pun di semayamkan di rumah duka, banyak tamu yamg berdatangan . Sedangkan Zian hanya mengurungkan dirinya di kamar. Ia terus memegang sambil memperhatikan lukisan itu dengan wajah yang penuh kesal. Bagaimana tidak, 3 orang perempuan yang ia sayangi tewas dengan tragis dalam pose yang sama.
          “Dasar lukisan keparat! Siapa orang yang melukismu?” Ucap Zian yang memegan lukisan itu.
          “3 nyawa telah terenggut. Mengapa mereka? Mengapa harus mereka?”
          Zian mengambil sebuah korek api. Ia berniat membakar lukisan itu. Lalu ia menyalakan korek api itu. Saat ia ingin membakar lukisan itu, terdengar suara kicauan burung. Ia menegok ke kanan dan ke kiri untuk mencari suara itu. Ternyata suara itu adalah suara alarm yang membangunka ia dari tidurnya.
          “Hah? Sudah pukul 5 pagi? Aku bermimpi ya?” Ucap Zian sambil mengucek matanya. Lalu ia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamarnya.
          “Ibu?” Teriak Zian yang melihat ibunya sedang berdoa seusai shalat subuh.
          “Ibu”, Ucap Zian sambil memeluk ibunya.
          “Kenapa sih pagi-pagi sudah cari ibu? Shalat dulu kamu sana”, Kata Ibu Zian sambil melepaskan pelukan anaknya itu.
          “Iya bu”, Kata Zian yang berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
          Waktu menunjukkan pukul 5.30 pagi, Zian sedang sarapan dan berbincang dengan ayahnya yang sedang sarapan juga.
          “Ayah tahu tidak lukisan wanita tewas yang ada di gudang?” Tanya Zian pada ayahnya.
          “Kenapa? Apa kamu menyentuhnya?” Jawab ayahnya.
          “Iya ayah, memang itu lukisan apa? Kenapa lukisan itu ada di mimpiku tadi malam?”
          “Itu lukisan kakek buyutmu. Itu adalah lukisan yang membuat mimpi buruk datang padamu, kau akan bermimpi 3 orang wanita yang mati dalam pose yang sama dengan lukisan itu”
          “Memang ayah pernah mimpi begitu? Lalu apa arti tulisan di belakangnya?”
          “Ya, kakek mu pun juga sempat merasakannya. Itu adalah bahasa belanda yang berarti jangan sentuh aku atau mimpi buruk akan menghantui Anda. Ya sudah buang saja lukisan itu. Dari pada terus menurun ke anak hingga cucu mu”
          “Ooh. Iya ayah aku akan buang nanti”, Tambah Zian.
          Setelah sarapan, Zian pun berangkat ke sekolah dan bertemu dengan Liana dan Bu Fitri yang masih dalam kondisi yang baik-baik saja.
          “Hai Liana!” Ujar Zian.
          “Hai! Kok kamu terlihat senag sekali hari ini?” Tanya Liana dengan heran
          “Tidak apa apa kok”, Jawab Zian.
          Bel masuk pun berbunyi, Bu Fitri memasuki kelas. Zian pun turut semangat dalam pelajaran yang diajarkan oleh Bu Fitri.
          “Makasih ya Bu. Bu Fitri adalah guru terbaik yang saya punya”, Ujar Zian sehabis jam pelajaran matematika.
          “Ya sama-sama Zian” Ucap Bu Fitri sambil tersenyum.
          Sepulang sekolah, Zian segera masuk ke kamar dan mengambil lukisan itudi laci meja belajarnya. Lalu ia membawanya ke tempat pembuangan sampah dekat rumahnya.
          “Selamat tinggal lukisan, bawalah mimpi-mimpi buruk mu pergi jauh dari kehidupanku”, Ucap Zian dalam hati dan Zian pun kembali kerumahnya.
          Tak lama kemudian, seorang anak pemulung mengambil lukisan itu dan membawa pulang lukisan itu.
          “Gambar apaan nih? Bawa pulang ah, lumayan kan buat tambal tembok yang bolong”, Ujar anak itu polos.
          Apakah yang akan terjadi dengan anak itu? Apakah mimpi buruk akan menghantuinya juga seperti yang dialami Zian dan ayahnya?


TAMAT

100% made by myself

0 Comments:

Post a Comment