PUISI: Begini Rasanya Hidup Tak Bertujuan

Sepi

Sunyi
Sendirian
Tak ada harapan
Bagai mencari mata air di padang pasir
Terus berjalan
Berharap bertemu di depan
Namun itu semua hanyalah fatamorgana
Sebuah bayangan semu


Diam

Termenung
Meratapi nasib
Berbicara pada diri sendiri
Itulah yang ku rasakan sekarang
Bahkan ikan peliharaan ku pun tak ingin mendengar


Berkhayal

Berimajinasi
Berandai-andai
Menyiapkan masa yang akan datang
Namun apa daya
Sepuluh menit kemudian pun aku tak tahu apa yang akan terjadi


Meratapi

Melihat-lihat
Sejauh mata memandang
Yang kulihat orang-orang
Aku hanya bisa iri
Hanya bisa diam
Hanya bisa cemburu
Seraya berkata dalam hati
'Kapan mereka bisa tunduk padaku?'


Sedih

Hampa
Kosong
Ingin aku bercerita
Tapi aku tak tahu kepada siapa
Akupun tak yakin apakah ada yang ingin dengar
Mereka tak butuh omong kosong
Mereka tak butuh pula bualan lelucon kentut


Lemah

Bodoh
Tak berguna
Itulah yang aku rasakan
Rasanya seperti sampah
Bahkan untuk membuka tutup botol pun aku tak sanggup
Begitu pula dengan meletakkan sandal di tempatnya
Apalagi untuk menguasai dunia?


Intuisi

Hasrat
Motivasi
Seolah hilang dari kepalaku
Ingin rasanya pindah ke planet lain
Duduk di kegelapan malam sendirian
Menikmati indahnya galaksi
Berharap adanya bintang jatuh


Takut

Khawatir
Was-was
Selalu ada di otakku
Selalu menghentikan langkahku
Kemanapun ku ingin pergi
Akupun hanya bisa terdiam disini
Di penjara yang nyaman ini


Pergi

Keluar
Hilang
Aku pun menjauh dari hingar bingar dunia
Aku lelah melihat mereka semua
Ku terus pergi hingga aku bisa tunjukkan pada dunia
Bahwa reptil-reptil itu bisa jinak suatu saat


Iri

Dengki
Cemburu
Seolah selalu ada di hatiku
Melihat mereka bisa ke Negara China
Sedangkan aku tidak
Serasa aku tak senang akan kesuksesan pribumi


Ikhlas

Sabar
Berusaha
Akan aku camkan di hatiku
Agar aku menjadi lebih baik
Agar aku menjadi lebih berguna
Agar aku menjadi lebih bermanfaat
Agar aku menjadi lebih buncit


Naik

Turun
Stabil
Inilah hidup
Aku harus menjalaninya
Sampai akhir hayat nanti
Sampai hujan turun dibawah kakiku
Sampai aku mampu menjadi pupuk bagi tanaman



Jakarta, 9 November 2016

Trah Nugroho

2 comments: