Fanatisme Akan Tokoh Politik? Perlu Gak Sih??

Hai gaes, balik lagi ke blog gue. Kalian merasa nge-fans sama tokoh politik dan selalu menyukai apa yang dilakuin mereka sehari-hari? Itu wajar gak sih? Oke kali ini gue akan bahas sedikit tentang "Fanatisme di Dunia Politik"

Illustration by trahgroo.com
Pertama gue akan jabarin sedikit apa itu fanatisme.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Fanatisme artinya adalah keyakinan yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama dan sebagainya).

It's okay kalo kita sebut fanatisme terhadap politik adalah hal wajar, dimana di politik itu tersendiri selalu punya konstitusi yang di Indonesia berupa UUD 1945 yang jadi pegangan buat semua penguasa negeri. Jadi, kepercayaan atau keyakinan dari berpolitik itu sendiri di dasarkan sama konstitusi yang berlaku.

Tapi bagaimana kalo fanatisme terhadap "tokoh" politik tertanam pada diri masyarakat?

Well, gue rasa hal ini bagaikan dua mata pisau, bisa baik bisa juga buruk.

Satu yang harus kita ketahui bahwa gak semua tokoh politik bisa selalu konsisten dalam menjaga eksistensinya di dunia politik. Mereka bisa aja cari segala cara gimana biar mereka bisa turut serta dalam menguasai negara.

Misal, kita lihat aja Prabowo di tahun 2009 yang nemenin Megawati di bangku Capres-Cawapres melawan SBY - JK yang kala itu adalah paslon juga dan SBY adalah bekas Menteri di Kabinet Megawati. Dan sekarang di tahun 2018, SBY dukung Prabowo buat nyalonin Presiden dan bakal lawan Jokowi yang diusung Megawati. Dan tambahan info juga bahwa Jokowi waktu diajuin buat jadi Cagub DKI, itu juga merupakan usulan Prabowo. Dan JK adalah wakil presiden selama periode Jokowi 2014-2019.

Di tahun pilpres 2019 ini juga Jokowi akan ditemenin sama Maruf Amin melawan Prabowo - Sandiaga. Cukup mindblowing ketika nama-nama cawapres diumumin, semua kaget dan speechless, terutama pasangan Jokowi - Maruf Amin. Pendukung Jokowi, yang kebanyakan adalah pendukung Ahok juga karena Ahok adalah pasangan Jokowi di pilgub DKI 2012, mulai kebingungan mau pilih Jokowi - Maruf Amin atau enggak. Secara Maruf Amin adalah salah satu saksi pemberat yang menjebloskan Ahok ke penjara atas kasus yang yaah semua warga Indonesia ngerti lah yaa. Ada yang kecewa sama pilihan Jokowi, ada yang berpasrah juga. Ada yang menertawakan ada yang dukung. Ada yang merasa paling benar ada yang apatis. Disini bisa kita lihat gimana rasa fanatisme mendarah daging ke mereka-mereka semua.

Gue akuin baru bener-bener liat bangsa yang bener-bener kepecah belah menjadi 2 kubu. Tim pro-Jokowi dan tim anti-Jokowi. Dan hampir keliatan jelas banget perbedaan diantara keduanya. Mungkin ga usah gue jelasin lagi disini ciri-cirinya kayak gimana tapi yang pasti kepecah-belahan itu terasa bener-bener ada.

Pro dan kontra wajar gak sih? Wajar tentunya. Tapi udah jelas salah yang namanya pro dan kontra itu didasarkan pada fanatisme akan tokoh politik itu sendiri. Harusnya sebagai masyarakat yang melek politik, hal yang harusnya diliat adalah objeknya, bukan subjeknya.

Dan gue juga pernah kenal sama orang yang cinta mati sama Ahok. Begitu dia tau kalo Ahok kalah di pilgub 2017, dia update video nangis dia di semua platform sosmednya. Yaaaa ga gitu juga kaliii, menang kalah udah wajar, toh Ahok juga menerima kekalahan kok, kenapa sekarang kalian malah benci Gubernur barunya? Kalian beru belajar hidup ya?

Well, itu baru segelintir contoh, mungkin kalian bisa pikirin sendiri yang lainnya.

Perpecahan ideologi, ada yang ribut di sosmed perang tagar dan sebagainya, ada yang menyuarakan kebencian, ada juga yang jual pencitraan.

Tim yang pro akan selalu membenarkan apa yang dilakukan oleh tokoh idolanya, selalu bangga-banggain program berhasilnya, selalu memuji apapun yang dibuat oleh idolanya dan gak luput juga untuk nyiyirin tim yang jadi lawannya. Kebalikan dengan tim kontra yang selalu ungkit janji kampanye yang ga terlaksana, nyinyirin apapun yang dibuat, dan nyinyirin tim lawan juga. Semua dilakukan buat saling jatuhin satu sama lain dengan data asumsi mereka sendiri dan kabar-kabar burung yang gatau darimana asalnya.

Pertanyaan gue adalah: "Buat apa sih terpecah belah buat belain tokoh yang kita gatau besok mereka mau buat apa? Bisa aja tokoh idola lo besok baikan sama tokoh yang lo benci. Namanya juga politik, who knows??"

Jangan sampe kita saklek sama pendirian kita buat benci atau cinta tokoh politik. Gaes, mulailah berpikir objektif! Kalo ada yang baik harus kita apresiasi dan kalo ada yang jelek harus kita kritisi.

Jangan sampe kita mempertuhankan seorang tokoh politik dengan selalu membenarkan apa yang dia bikin, baik pencitraan atau emang tulus ikhlas dari tokoh tersebut.

Jangan sampe kita log-in ke sosmed cuma buat buka berita kejelekan dari tokoh politik yang kita benci doang dan koar-koar atas dasar dari media yang ga kompatibel. Dude, waktu luang lu banyak banget buat yang begituan?? Banyak loh orang yang kayak gitu, disekitar kita pasti ada.

Jadi please guys, respect our government! Kayak yang tadi gue bilang "Ada yang baik kita apresiasi, ada yang buruk kita kritisi" Udah itu aja!!

Oke sekian dari gue, semoga bisa buka mata kalian betapa serunya panggung politik yang diisi aktor politik yang bisa berubah peran bisa jadi protagonis bisa juga antagonis.

Satu Quote dari gue
Be Objective!! Appreciate the good things they have done, and criticize bad things they have made - Trah Nugroho 22 y.o.

0 Comments:

Post a Comment